Showing posts with label Edukasi. Show all posts
Showing posts with label Edukasi. Show all posts

Saat yang Tepat Mengajarkan Bahasa Kepada Anak

Anak-anak tergolong ke dalam peniru yang hebat. Imajinasinya pun hebat. Ingatannya juga kuat. Sebagai peniru yang hebat, apapun yang orang tuanya lakukan akan segera ditirunya tanpa ada yang terlewat. Misalkan ibunya suka dandan maka lihat saja di kamar, semua alat kosmetik sudah entah bagaimana kondisinya. Jika ibunya suka masak maka lihat saja, dia akan mengikuti ibunya memasak. Dia meniru gaya menggoreng.

Jika sang anak bersama ayahnya kemudian melihat ayahnya sedang memperbaiki kendaraan, mobil misalnya. Ayahnya memegang kunci dan menggunakannya. Pasti akan terdengar suara dan didengarkan oleh anak tersebut. Anak ini akan meniru ayahnya. Mungkin dia mengambil kunci lalu memukulkannya sehingga timbul bunyi. Atau ikut masuk ke kolong mobil.

Ketika orang tua melihat kondisianaknya seperti ini maka orang tua akan membelikan mainan untuk masak, dan mobil-mobilan dilengkapi kunci-kunci. Anak akan betah bermain menirukan orang tuanya.

Selain itu anak juga menirukan gaya orang tuanya. Dia belajar mengucapkan kata-kata. Anak akan terus berkembang untuk memahami kata demi kata. Biasanya anak terlebihdahulu mengenal kata nama yang terdekat. Misalkan sesuatu yang dicintai seperti nama ayah atau ibunya. Orang tua juga mengajarkan anak untuk mengucapkan kata benda. Anak akan menirukan orangtuanya.

Saat inilah yang tepat mengajarkan suatu bahasa sebelum menguasai bahasa lainnya. Misalkan ingin mengajarkan bahasa Iggris, Arab, Mandarin, Indonesia, Jawa atau bahasa lainnya. Niscaya dengan cara ini anak akan menguasai bahasa asing sekalipun.

Sibuk Bukan Masalah Pendidikan Anak

Sibuk Bukan Masalah Pendidikan Anak
Orang tua semuanya pasti mengharapkan memiliki anak-anak yang cakep, sholeh, dan prestasinya oke. Siapa sih yang tidak mau punya anak seperti itu. "Aduh soleh banget itu anak, anaknya siapa ya?" Orang tua, saat mendengarkan ucapan itu pasti perasaannya langsung terbang ke angkasa. Tentu dalam hatinya mengatakan, "Anak siapa dulu dong, diakan anak saya. Gak sia-sia saya mendidik dia."


Orang tuanya sangat bangga terhadap pujian orang lain. Itulah fitrah manusia, inginnya dipuji. Tapi segala puji itu haknya Allah saja. Maka ketika mendengarkan pujian tersebut maka bersyukurlah kepada Allah. Ucapkan alhamdulillah. Ucapan ini akan menambah keberkahan bagi segala nikmat dan karunia yang telah Allah berikan.


Bagaimana bisa mendapatkan anak yang shaleh seperti itu? Tentunya tidak gampang. Apalagi zaman ini, pergaulan makin marak bebasnya. Perlu adanya pemahaman-pemahaman diberikan kepada sang anak. Sesibuk apapun orang tua, pendidikan sangatlah menjadi kewajiban bagi mereka. Karena kita tidak boleh meninggalkan keturunan yang lemah. Lemah iman, akal, dan fisik. Haruslah mereka diperkuat semuanya agar kelak berguna bagi kehidupannya di kemudian hari.

Orang tua yang sibuk, sempatkanlah beberapa jam saja dalam seminggu untuk berkumpul dengan keluarga. Setiap hari lebih bagus. Jangan sampai terlalu sibuknya orang tua, pulang pagi sebelum anak bangun dan pulang ketika anak sudah tidur. Begitu sampai dia tua. Sampai anak tidak mengenal orang tuanya. Jangan sampai anak malah lebih dekat dengan orang lain (pembantu). Atau malah menganggap bahwa dia adalah anak pembantu. Itu ekstreme sekali bukan? hehe...

Dalam dua jam setelah beraktivitas, ajaklah mereka berkumpul. Bisa sambil tamasya ke mana saja. Lalu buat mereka betah dan nyaman bersama kita. Ajak mereka ngobrol dan dengarkan. Beri kesan bahwa kita lagi penasaran. Jangan komentar dulu, nanti dia gak mau ngelanjutin cerita. Nah setelah bicaranya dia selesai, barulah orang tua nyelipin nasehat. Bisa lewat cerita-cerita atau disuruh melihat sekelilingnya untuk memberikan pelajaran. Tapi yang namanya anak pasti lebih senang cerita. Maka perhatikan juga usianya. Kalau remaja sudah bisa diajak diskusi. Tinggal kasih saja opsi-opsi yang positif. Biarkan dia mikir sendiri.

Kalau anak langsung didikte, dibentak-bentak, dia jadinya berontak. Telinganya disumpal rapat-rapat. Mau ngomong juga pasti minggat. Maka lunakkan hati kitanya dulu sebelum melunakkan hati mereka. Buat mereka nyaman di dekat kita. Insya Allah apa yang kita inginkan akan mereka turuti walau tanpa diminta.

Eit...jangan lupa minta kepada Allah agar memiliki keturunan yang menyejukkan agar rumah tangga menjadi sakinah mawaddah dan rahmah. Insya Allah harapan itu terwujud segera.

Pentingnya Mendidik Anak Sendiri Sejak Dini

Anak adalah buah hati setiap orang tuanya. Harta yang sangat berharga dan tidak bisa dinilai dengan mata uang atau benda berharga. Semenjak di dalam kandungan orang tua menjaganya dengan penuh perhatian. Proses pendidikan pun dimulai di sini. Dengan belaian, elusan tangan ibunda, serta emosi-emosi positif dapat merangsang anak di dalam kandungan untuk memiliki emosi yang positif pula.

Seorang ibu hendaknya menjaga emosinya agar sang anak memiliki emosi yang baik pula. Di sanalah tempat bertautannya emosi antar ibu dan anak. Jika ibu sedih maka anak yang di dalam kandungan pun ikut sedih, begitu pula ketika ibu senang maka anak pun akan ikut merasakan senang.

Pentingnya Mendidik Anak Sendiri Sejak Dini
Penemuan-penemuan ilmiah pun membuktikan pentingnya menjaga emosi bagi ibu yang sedang hamil. Maka lakukan perbuatan-perbuatan positif saja. Misalkan sering membaca alquran. Dengan membaca alquran, ibu akan menjadi tentram hatinya. Juga sang anak akan merasakan hal yang sama di dalam kandungan ibundanya.