Showing posts with label Motivasi GOC. Show all posts
Showing posts with label Motivasi GOC. Show all posts

Anak, Harta Berharga dalam Keluarga

Harta yang paling berharga adalah keluarga. Keluarga bahagia walaupun hidup sederhana. Keluarga yang menjadikan hidup menjadi tentram. Keluarga yang senantiasa menyejukkan jiwa.

Akan tetapi belumlah lengkap apabila sebuah keluarga tanpa dikaruniai anak. Walau hanya seorag buah hati namun ialah pelngkap kebahagiaan yang dirindukan. Sampai-sampai ada yang harus mengadopsi anak karena saking inginnya memiliki anak.

Hasrat memiliki anak merupakan fitrah sepasang manusia yang telah menikah. Allah menganugrahi kebahagiaan manusia yang menjalankan perintah-Nya dengan jalan yang halal (menikah). Sebagai pelengkap kebahagiaan, mereka senantiasa berharap memiliki anak, ketika sebelum dianugrahi anak. Saat Allah memberikan mereka nikmat itu, mereka berusaha menjaganya sejak di dalam kandungan. Walau hanya mendapat kabar dari bidan atau dokter kandungan bahwa sang istri telah mengandung,  seolah dunia menjadi semakin cerah.

Setelah lahir, orang tua merasakan hidupnya semakin lengkap. Ketika masih di dalam kendungan saja begitu bahagia apalagi setelah lahir dan hadir buah hati mereka ke dunia. Lengkaplah sudah hidup sebuah keluarga dengan kehadirannya.

Tidak selesai di situ saja. Sebagai orang tua memiliki kewajiban-kewajiban terhadap anak. Kewajiban tersebut Allah mampukan kepada mereka untuk menunaikannya. Kewajiban tersebut adalah memberikan nama yang terbaik bagi buah hatinya, mencukur, dan menyembelihkan aqiqah baginya. Selanjutnya orang tua wajib menjadikan anak mereka tumbuh dengan kuat, yaitu menjadian anak mereka kuat jasadnya. Maka orang tua wajib memberikan makan dan minum yang terbaik dari harta yang halal. Orang tua harus memberikan pakaian yang terbaik. Orang tua wajib memberikan kenyamanan dengan kasih dan sayang mereka kepada buah hati mereka. Orang tua memberikan tempat berteduh berupa rumah yang terbaik untuk mereka tinggali. Orang tua wajib memberikan pendidikan terhadap anak mereka agar kuat akal dan keimanannya. Orang tua wajib mengurusnya hingga dewasa sampai kewajiban itu berpindah kepada keluarga barunya (menikah).

Kewajiban ini merupakan wujud syukur kepada Allah yang telah memberikan anugerah yang teramat indah ini. Niscaya ketika sang hamba bersyukur kepada sang pencipta maka nikmat-nikmat yang lain Allah akan memberikannya.

Saat yang Tepat Mengajarkan Bahasa Kepada Anak

Anak-anak tergolong ke dalam peniru yang hebat. Imajinasinya pun hebat. Ingatannya juga kuat. Sebagai peniru yang hebat, apapun yang orang tuanya lakukan akan segera ditirunya tanpa ada yang terlewat. Misalkan ibunya suka dandan maka lihat saja di kamar, semua alat kosmetik sudah entah bagaimana kondisinya. Jika ibunya suka masak maka lihat saja, dia akan mengikuti ibunya memasak. Dia meniru gaya menggoreng.

Jika sang anak bersama ayahnya kemudian melihat ayahnya sedang memperbaiki kendaraan, mobil misalnya. Ayahnya memegang kunci dan menggunakannya. Pasti akan terdengar suara dan didengarkan oleh anak tersebut. Anak ini akan meniru ayahnya. Mungkin dia mengambil kunci lalu memukulkannya sehingga timbul bunyi. Atau ikut masuk ke kolong mobil.

Ketika orang tua melihat kondisianaknya seperti ini maka orang tua akan membelikan mainan untuk masak, dan mobil-mobilan dilengkapi kunci-kunci. Anak akan betah bermain menirukan orang tuanya.

Selain itu anak juga menirukan gaya orang tuanya. Dia belajar mengucapkan kata-kata. Anak akan terus berkembang untuk memahami kata demi kata. Biasanya anak terlebihdahulu mengenal kata nama yang terdekat. Misalkan sesuatu yang dicintai seperti nama ayah atau ibunya. Orang tua juga mengajarkan anak untuk mengucapkan kata benda. Anak akan menirukan orangtuanya.

Saat inilah yang tepat mengajarkan suatu bahasa sebelum menguasai bahasa lainnya. Misalkan ingin mengajarkan bahasa Iggris, Arab, Mandarin, Indonesia, Jawa atau bahasa lainnya. Niscaya dengan cara ini anak akan menguasai bahasa asing sekalipun.

Sibuk Bukan Masalah Pendidikan Anak

Sibuk Bukan Masalah Pendidikan Anak
Orang tua semuanya pasti mengharapkan memiliki anak-anak yang cakep, sholeh, dan prestasinya oke. Siapa sih yang tidak mau punya anak seperti itu. "Aduh soleh banget itu anak, anaknya siapa ya?" Orang tua, saat mendengarkan ucapan itu pasti perasaannya langsung terbang ke angkasa. Tentu dalam hatinya mengatakan, "Anak siapa dulu dong, diakan anak saya. Gak sia-sia saya mendidik dia."


Orang tuanya sangat bangga terhadap pujian orang lain. Itulah fitrah manusia, inginnya dipuji. Tapi segala puji itu haknya Allah saja. Maka ketika mendengarkan pujian tersebut maka bersyukurlah kepada Allah. Ucapkan alhamdulillah. Ucapan ini akan menambah keberkahan bagi segala nikmat dan karunia yang telah Allah berikan.


Bagaimana bisa mendapatkan anak yang shaleh seperti itu? Tentunya tidak gampang. Apalagi zaman ini, pergaulan makin marak bebasnya. Perlu adanya pemahaman-pemahaman diberikan kepada sang anak. Sesibuk apapun orang tua, pendidikan sangatlah menjadi kewajiban bagi mereka. Karena kita tidak boleh meninggalkan keturunan yang lemah. Lemah iman, akal, dan fisik. Haruslah mereka diperkuat semuanya agar kelak berguna bagi kehidupannya di kemudian hari.

Orang tua yang sibuk, sempatkanlah beberapa jam saja dalam seminggu untuk berkumpul dengan keluarga. Setiap hari lebih bagus. Jangan sampai terlalu sibuknya orang tua, pulang pagi sebelum anak bangun dan pulang ketika anak sudah tidur. Begitu sampai dia tua. Sampai anak tidak mengenal orang tuanya. Jangan sampai anak malah lebih dekat dengan orang lain (pembantu). Atau malah menganggap bahwa dia adalah anak pembantu. Itu ekstreme sekali bukan? hehe...

Dalam dua jam setelah beraktivitas, ajaklah mereka berkumpul. Bisa sambil tamasya ke mana saja. Lalu buat mereka betah dan nyaman bersama kita. Ajak mereka ngobrol dan dengarkan. Beri kesan bahwa kita lagi penasaran. Jangan komentar dulu, nanti dia gak mau ngelanjutin cerita. Nah setelah bicaranya dia selesai, barulah orang tua nyelipin nasehat. Bisa lewat cerita-cerita atau disuruh melihat sekelilingnya untuk memberikan pelajaran. Tapi yang namanya anak pasti lebih senang cerita. Maka perhatikan juga usianya. Kalau remaja sudah bisa diajak diskusi. Tinggal kasih saja opsi-opsi yang positif. Biarkan dia mikir sendiri.

Kalau anak langsung didikte, dibentak-bentak, dia jadinya berontak. Telinganya disumpal rapat-rapat. Mau ngomong juga pasti minggat. Maka lunakkan hati kitanya dulu sebelum melunakkan hati mereka. Buat mereka nyaman di dekat kita. Insya Allah apa yang kita inginkan akan mereka turuti walau tanpa diminta.

Eit...jangan lupa minta kepada Allah agar memiliki keturunan yang menyejukkan agar rumah tangga menjadi sakinah mawaddah dan rahmah. Insya Allah harapan itu terwujud segera.

Belajar Bahasa Inggris, Usia Bukan Masalah

Belajar Bahasa Inggris, Usia Bukan Masalah
Bahasa Inggris adalah bahasa asing bagi orang Indonesia. Banyak orang Indonesia ingin sekali menguasai bahasa asing tersebut. Namun sebagai bahasa asing, bahasa Inggris dianggap bahasa yang sulit bagi orang indonesia. Salah satunya adalah sulitnya pengujaran dan tata bahasanya yang berbeda dengan yang ada pada bahasa Indonesia.

Meskipun demikian, dewasa ini telah banyak orang Indonesia yang telah cakap berbahasa Inggris. Kecakapan ini mereka peroleh dari berlatih. Mereka rela menghabiskan uang dan waktu hanya untuk mempelajari bahasa ini. Mereka tidak mempedulikan usia karena biasanya usia juga yang membuat orang belajar menjadi pesimis. Namun jika sudah berkeinginan kuat mereka tidak mempedulikan berapapun usia mereka.

Setiap hari mereka dilatih secara intensif oleh seorang instruktur yang sudah berpengalaman. Emosional mereka terikat satu sama lain antara instruktur dengan mereka. Hal inilah yang dapat membuat mereka nyaman ketika belajar karena rasa canggung telah lenyap dari mereka. Ketika mereka ada yang masih belum mampu memahami maka dengan segera tanpa canggung mereka bisa menanyakan kepada pembimbingnya.

Bahasa Inggris sebagai bahasa yang sulit tidak akan lagi terasa sulit jika instruktur sebagai motivator memberikan materi dari yang termudah. Materi yang sulit sekalipun, oleh sang instruktur dibuatnya mudah. Itulah tugas sebagai instruktur. Dia harus kreatif sehingga bahasa asing ini dianggap mudah pula oleh mereka yang sedang berhasrat untuk menguasai bahasa Inggris.

Alangkah bahagianya mereka yang belajar. Alangkah betahnya mereka ketika mendapatkan suasana belajar seperti ini. Mereka belajar tanpa beban. Mereka belajar dengan menyenangkan. Dengan kondisi demikian manalah mungkin target untuk menguasai bahasa Inggris menjadi kemustahilan.

Berapapun usianya, belajar bahasa Inggris tidak jadi masalah

MOTIVASI BELAJAR

MOTIVASI BELAJARBelajar adalah sebuah proses untuk menuju bisa. Telah banyak orang-orang sukses diawali dengan proses belajar. Karena orang-orang sukses tersebut sangat menyukai dan telah merasakan indahnya belajar.

Bagi mereka belajar bukanlah beban melainkan menjadi sebuah kebutuhan pokok bagi mereka. Maka tak heran bila di lemari-lemari mereka penuh dengan buku-buku tebal sebagai teman istirahat juga mereka tak ketinggalan setiap pagi menjadikan berita di koran harian sebagai bumbu sarapan. Pantas saja jika pikiran mereka selalu gemilag. Sebab di setiap waktu selalu mengolah pikiran. Memikirkan diri, keluarga, umat dan agama.

Akan tetapi saat ini jarang ditemui orang semacam itu. Beranggapan bahwa hal seperti itu adalah buang-buang waktu. Mereka berpikir, mending langsung mengerahkan tenaga meraup nafkah tanpa memperhitungkan baik buruk pekerjaannya. Pantaslah jika kesuksesan diukur hanya dalam sudut materi saja dan pantas juga jumlah orang sukses masih dapat dihitung dengan jari. Sebab belajar tidak lagi dijadikan istimewa melainkan uang lebih berharga daripada ilmu baginya.

Di manakah kita?

Kita adalah para pemburu ilmu yang haus akan ilmu pengetahuan. Sebagai generasi muda penegak harapan bangsa. Bukan generasi muda yang bersemangat dalam pesta fora plus awut-awutan. Kita adalah generasi muda yang malas untuk bermalas-malasan dan kita adalah generasi muda yang bahagia dalam kesuksesan. Dengan ilmu kita hidup tercerahkan. Dengan ilmu kita akan semakin dekat denga Allah. Bahagia kita... itu adalah keniscayaan bila kita yakin dan menyadari kebahagiaan adalah milik siapa saja yang menhendakinya. Begitu pula kesuksesan adalah milik siapapun orangnya yang ingin kesuksesan menjadi miliknya.

Kita adalah pemuda yang gemar belajar. Melalap berbagai informasi setiap hari dari berbagai media. Sehingga tak setiap detikpun terlewatkan dari lembaran-lembaran jendela dunia. Sudah berapa koleksi kita di lemari kamar? Perlu lebih banyak lagi kita membaca, bukan hanya buku pelajaran tetapi buku lainnya perlu dipelajari sebagai variasi agar selain tidak menjadikan bosan juga dapat mengupdate informasi. Ilmu tidak hanya didapat dari buku. Ilmu pula dapat diperoleh dari perbincangan atau diskusi, ceramah, dari orang-orang berilmu. Itulah ilmu dan itulah belajar. Ilmu sebagai buah informasi dan belajar adalah aplikasi dari ilmu juga dari belajar akan bertambah lagi ilmunya. Dua kekuatan yang semestinya kembali membumin di kalangan kita.

Kita sadar bahwa kita bukan orang hebat tetapi kita bisa menjadi orang hebat bila mau memiliki kekuatan itu. Kita hari ini belum sukses menggapai impian besar kita tetapi kita bisa menggapai semua itu dengan dua kekuatan tersebut. Sebuah kata bijak dari seorang bijak di masa kejayaan, “Jika engkau ingin dunia, raihlah dengan ilmu. Jika engkau ingin akhirat raihlah dengan ilmu. Jika engkau ingin meraih keduanya, raihlah dengan ilmu”. Siapakah yang mengungkapkan kalimat ini?

Indah masa depan menunggumu, menunggu kita kawan...
Adalah sebuah keputusan kita sekarang, berubah atau orang lain yang merubah kita.

HAKIKAT BELAJAR

“Semakin Sering Belajar, Semakin Bodoh Kita Rasakan”
Temukan GAYA (belajar) mu, pasti bikin kamu ketagihan

Judul: 3 Tingkatan Belajar

Bismillah...
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang melimpah kepada semua mahluk-Nya. Shalawat dan salam mari kita senantiasa ucapkan untuk Rasulullah SAW, kekasih-Nya. Tak lupa doaku untukmu saudaraku, semoga Allah SWT mengokohkan keimanan di dalam hatimu, menajamkan pikiranmu, menggolongkanmu kedalam golongan orang-orang shalih.

Tiada kata terindah selain dari hati. Tiada kata yang berkesan selain dari hati. Tiada kata yang menyentuh hati kecuali dari hati. Sebuah kutipan dari seorang ulama besar di masa 118 H. Gelar beliau sangat banyak, di antaranya: Al-Hafizh, Syekh Al-Islam, Fakhr Al-Mujahidin, pemimpin para ahli zuhud, dan masih banyak gelar lainnya. Beliau habiskan usianya untuk melakukan safar dalam rangka berhaji, berjihad, dan berdagang. Karena itu, beliau dikenal dengan “As-Saffar” (orang yang rajin melakukan perjalanan).

Beliau adalah pembelajar sejati. Beliau sering melakukan perjalanan dan petualangan dalam mencari hadis, sehingga beliau memiliki guru yang sangat banyak. Di antara guru beliau adalah Sulaiman At-Taimi, `Ashim Al-Ahwal, Humaid Ath-Thawil, Rabi` bin Anas, Hisyam bin `Urwah, Al-Jariri, Ismail bin Abi Khalid, Khalid Al-Hadza`, Barid bin Abdillah, dan masih banyak deretan ulama lainnya. Bahkan, beliau juga menulis hadis dari orang yang lebih muda atau lebih rendah tingkatan ilmunya dibanding beliau. Beliau adalah `Abdullah bin al-Mubarak. Beliau pernah mengatakan bahawa:

“Belajar ilmu itu mempunyai 3 tingkatan:
1)  Barangsiapa yang sampai ke tingkatan pertama, dia akan menjadi seorang yang sombong.  
2)  Barangsiapa yang sampai ke tingkatan kedua, dia akan menjadi seorang yang tawadhu`.
3)  Barangsiapa yang sampai ke tingkatan ketiga, dia akan merasakan bahawa dia tidak tahu apa-apa.”

Dalam hal ini dapat dijelaskan bahwa manusia penuntut ilmu memiliki beberapa kriteria. Yang pertama adalah mereka yang katanya telah mengetahui segala sesuatu, dia merasa angkuh akan ilmu yang dimiliki. Tak mau menerima nasehat orang lain karena dia telah merasa lebih tinggi. Bahkan dia juga menganggap pendapat orang yang memberikan nasehat kepadanya, disalahkannya. Selalu mau menang sendiri, tidak mau mengalah meskipun pendapat orang lain itu benar dan pendapatnya yang salah. Terkadang dia mengatakan sudah berpengalaman karena usianya yang lebih lama namun sikapnya masih seperti kekanak-kanakan. Terkadang ada dia yang berpendidikan tinggi, namun dia tak mengerti akan ilmu yang dia miliki. Dia malah semakin menyombongkan diri, congkak di hadapan orang banyak. Merasa dia yang paling pintar dan ingin diakui kepintarannya oleh manusia. Hanya nafsu yang diutamakan sehingga emosi tak dapat dikendalikan maka ucapannyapun mengandung kekejian.

Namun adalah berikutnya sebuah tingkatan yang membuat semua orang mencintanya karena pribadinya yang mulia meski telah banyak ilmu yang tersimpan di dalam dadanya, ia tetap merendah hati tiada meninggi. Semakin dia rendah hati, semakin tinggi derajat kemuliaan yang dia peroleh. Sesungguhnya karena ilmu yang banyak itulah yang mampu menjadikannya faham akan hakikat dirinya. Dia tak mudah merendahkan orang lain. Senantiasa santun dan ramah, bijaksana dalam menentukan keputusan suatu perkara. Dia dengan semuanya itu membuatnya semakin dicinta manusia dan insya Allah, Allah SWT pun mencintainya.

Sedangkan yang terakhir adalah yang teristimewa. Dia yang selalu merasa dirinya tetap tidak mengetahui apa-apa meskipun ilmu yang dimilikinya telah memenuhi tiap ruang di dadanya. Karena dia telah mengetahui hakikat ilmu dengan sempurna, semakin jelas di hadapan mata dan hatinya.
Semakin banyak pintu dan jendela ilmu yang dibuka, semakin banyak didapati pintu dan jendela ilmu yang belum dibuka.  Justru, dia bukan hanya tawadhu`, bahkan lebih mulia dari itu. Dia selalu merasakan tidak tahu apa-apa, mereka bisa tak berdaya di dalamnya lantaran terlalu luasnya ilmu yang terlalu luasnya.

Fikirkanlah dan renungkan maksud kata-kata Ibnu al-Mubarak di atas.  Semoga kita dapat bermuhasabah dengannya.


Wallohu a’lam